Sanggar Swara

]

Program Kami

]

Pengurus

Foto di Balik Layar

Para peserta mengikuti sesi lokakarya puisi online bersama mentor Khairani Barokka. Foto oleh panitia CERITRANS.

Para peserta mengikuti sesi lokakarya prosa online bersama mentor Eliza Vitri Handayani. Foto oleh panitia CERITRANS.

Peserta, panitia InterSastra, dan tim Production House Seven Ten mengikuti sesi orientasi “How to be Allies” sebelum gladi resik dimulai. Foto oleh Rayner Wijaya/CERITRANS.

Asya melecutkan cambuknya dalam siraman cahaya merah di penampilan karyanya Mistress on Stage. Foto oleh Rayner Wijaya/CERITRANS.

Vinaa berdiri berani dalam cahaya temaram yang menemani kisah masa kecilnya dalam karyanya berjudul Umeak. Foto oleh Rayner Wijaya/CERITRANS.

Hana bercerita tentang masa lalunya saat merantau di Kepulauan Riau dalam karyanya Saya Hana. Foto oleh Rayner Wijaya/CERITRANS.

Restya membacakan puisi dalam balutan gaun merah dan sampiran bendera trans di karya Melela ke Dada Mama. Foto oleh Rayner Wijaya/CERITRANS.

Rari merenungkan rambut dan beribu maknanya dalam pembacaan puisinya yang berjudul Rambutku Mahkota. Foto oleh Rayner Wijaya/CERITRANS.

Ian menari dalam alunan puisinya yang membawa dirinya ke dimensi lain, dalam aku menjadi Aku. Foto oleh Rayner Wijaya/CERITRANS.

Anggun menceritakan kisahnya saat persidangan penggantian nama di hadapan hakim dalam Penghakiman Nama. Foto oleh Rayner Wijaya/CERITRANS.

Rere Suketi berganti sedih, senang, menyanyi dan menari dalam alunan dangdut dalam cerita yang berjudul Pernikahanku. Foto oleh Rayner Wijaya/CERITRANS.

Ayu membawakan kisahnya tentang tumbuh besar dan mencari penghidupan di Serambi Mekah, dalam Ayu ke Jakarta. Foto oleh Rayner Wijaya/CERITRANS.

Nabillah bercerita tentang cinta dan pilihan hidupnya sebagai muslimah berhijab dalam kisah berjudul 14:30. Foto oleh Rayner Wijaya/CERITRANS.

Ruth Marini mengarahkan aktor dan tim produksi film saat ia menjadi mentor pementasan dan sutradara film CERITRANS. Foto oleh Rayner Wijaya/CERITRANS.