Sanggar Swara

]

Program Kami

]

Pengurus

Ruang Aman

Demi menciptakan ruang yang aman, nyaman, dan inspiratif bagi proses pengembangan karya, tim CERITRANS menyediakan tim Psychological First-Aid (PFA) untuk mendampingi jika ada peserta yang mengalami respons emosional yang kuat atau terpicu ingatan traumatis. Tim juga telah membuat Pedoman Etika bersama dengan mitra-mitra terkait untuk semua kegiatan, yang dibaca dan diikuti oleh semua kolaborator dalam kegiatan. Kami melakukan penilaian dan pengelolaan risiko sebelum dan selama kegiatan. Kami juga mengadakan sesi “How to be Allies for Transwomen” atau “Bagaimana Menjadi Sekutu yang Baik bagi Transpuan”, yang diampu oleh perwakilan dari Sanggar Swarasesi ini dihadiri oleh semua tim PFA, seniman kolaborator, tim produksi film, dan pihak-pihak lain yang bekerja dalam CERITRANS.

Selama lokakarya, para mentor membuka ruang bagi peserta untuk mengangkat cerita yang personal, yang bisa jadi berat atau perih. Untuk mewujudkan ruang yang nyaman dan aman bagi proses kreatif, kami hadirkan pertolongan pertama psikologis di setiap acara. Tim PFA mendampingi para peserta yang terpicu ingatan traumatis atau mengalami berbagai emosi lainnya dalam proses berkarya. Tidak hanya hadir dalam kegiatan meeting online, tim PFA juga melakukan check-in ke tiap peserta setelah tiap pertemuan untuk memastikan mereka dalam kondisi baik dan aman secara psikologis.

Metode PFA dapat dilakukan dengan cara mendengarkan, membuat peserta merasa nyaman, membantu peserta untuk terhubung dengan orang lain, dan menyediakan informasi serta dukungan praktis untuk memenuhi kebutuhan peserta. Metode pendampingan dari tim PFA saat CERITRANS ini merupakan salah satu komponen penting guna terciptanya keselarasan mental peserta dan menciptakan ruang aman dan nyaman untuk menyalurkan kreativitas mereka.

PFA tidak harus dilakukan oleh para ahli, tetapi dapat dilakukan oleh anggota komunitas yang sudah dilatih terlebih dahulu. Tim PFA CERITRANS dilatih oleh Benny Siauw selaku aktivis kesehatan mental global. Selain itu PFA CERITRANS juga menerima pelatihan dari Sanggar Swara terkait bagaimana menjadi sekutu yang baik bagi teman-teman transpuan, agar mereka mengetahui bagaimana mendampingi peserta dengan perspektif yang adil gender.

Pelatih: Benny Siauw 

Relawan PFA: Angga Danu, Aulia Tiara, Bening Wismawarin, Bunga, Chiara Situmorang, Juan Samuel, Rajendra Amira, Tassa, Yumna Tsamara

Kami juga berkomitmen untuk menyediakan Pedoman Etika CERITRANS bagi publik sebagai acuan dan sumber pembelajaran umum, jika ke depannya ada pihak-pihak lain yang juga tertarik untuk mengadakan kegiatan serupa bagi teman-teman trans. Pedoman Etika tersebut dapat dibaca di bawah atau diunduh sebagai PDF.

Pedoman Etika

  1. CERITRANS adalah sebuah ruang dan panggung bagi peserta transpuan untuk berkarya bersama seniman-seniman kolaborator lainnya, melalui pembimbingan penulisan dan pementasan. Dengan membawa karya mereka kepada publik secara online dan offline, karya ini bertujuan menguatkan diri dan komunitas transpuan serta meningkatkan kesadaran, hormat, dan empati masyarakat terhadap kisah dan pengalaman transpuan.
  2. Panitia, mentor, maupun peserta diskusi mengingat bahwa para peserta memiliki identitas yang utuh dan beragam, tidak hanya sebatas identitas mereka sebagai transpuan. Seperti manusia lainnya, pengalaman hidup dan suara mereka kompleks dan bervariasi. Panitia dan mentor berusaha menciptakan suasana yang nyaman, tanpa diskriminasi, dan saling menghargai.
  3. Dalam proses berkarya ada seniman-seniman kolaborator yang akan bertindak sebagai mentor bagi para peserta. Para mentor berperan untuk mendorong para peserta untuk menceritakan kisah mereka sendiri dan membantu mereka mengolah kisah mereka hingga memenuhi potensinya dan tersampaikan dengan sejelas dan sebaik mungkin, dalam bentuk dan metode karya CERITRANS ini.
  4. Hak cipta karya yang dihasilkan ada pada peserta dan kolaborator masing-masing dan Eliza Vitri & Infinity sebagai mentor utama dan penggagas CERITRANS. Panitia, mentor, mitra, dan British Council selaku donor berhak untuk mendistribusikan karya yang telah dipublikasikan.
  5. Panitia dan mentor berusaha untuk mewujudkan ruang yang nyaman, berani, inspiratif, dan aman bagi proses kreatif, di antaranya dengan menyediakan tim pendamping psikologis. Namun, panitia dan mentor tidak berkapasitas untuk memberikan layanan selayaknya terapis, psikolog, atau pendamping sosial. Panitia dan mentor tidak dapat menggantikan peran keluarga atau sahabat. Sebisa mungkin, panitia akan memberikan rujukan ke peserta apabila membutuhkan layanan bantuan.
  6. Untuk mewujudkan ruang aman tersebut, penting agar relasi yang terbentuk antara mentor, panitia, dan peserta lokakarya bersifat profesional, termasuk dengan adanya pembatasan waktu kerja, tugas, dan tanggung jawab selama kegiatan berlangsung.
  7. Dalam seluruh kegiatan program, mentor, panitia, dan peserta menghargai komunikasi dua arah yang berbasis pengertian dan saling menghormati. Panitia dan mentor juga menghargai hak peserta untuk membuka diri sesuai keinginan masing-masing peserta.
  8. Saat pertemuan pertama, sebaiknya mentor tidak langsung minta peserta untuk bercerita, apalagi tentang trauma mereka. Ada baiknya mentor mulai dengan bercerita sedikit tentang dirinya sendiri untuk mulai membangun rasa percaya.
  9. Selama program, peserta dapat menggunakan nama pribadi atau nama pena. Panitia, mentor, dan semua kolaborator lain merahasiakan identitas peserta yang memilih untuk menggunakan nama pena atau samaran. 
  10. Panitia, mentor, peserta lokakarya, dan peserta diskusi terbuka untuk mengangkat topik yang sensitif dan rumit. Panitia, mentor, dan peserta diskusi diharapkan mengantisipasi respons emosional dari peserta dan diri sendiri, dan membantu para peserta merasa aman selama berkegiatan. Panitia juga menyediakan tim pendamping psikologis yang dapat membantu peserta memproses respons emosional selama kegiatan apabila diperlukan.
  11. Dalam lokakarya dan diskusi, gunakan bahasa yang empatik (misal, “Oh begitu ya” atau “Saya mengerti”) daripada yang preskriptif (seperti “Sabar ya”). Jangan tanyakan hal-hal berikut: “Sejak kapan kamu memilih kayak gini?”, “Kamu udah operasi kelamin?”, “Nanti kalau kamu berubah pikiran gimana?”, “Bagaimana cara kamu berhubungan seksual?”, “Nama aslimu siapa?”, atau pertanyaan-pertanyaan serupa (lihat https://www.instagram.com/p/CHzA580H3Jn/?igshid=3ojgypauuz2n).
  12. Panitia dan mentor tidak menghakimi atau menasihati di luar keahliannya. Apabila peserta menanyakan hal di luar fungsi dan keahlian panitia dan mentor, katakanlah bahwa bukan tempat kita untuk membantu atau menasihati soal hal itu dan arahkan ke lembaga bantuan, psikolog, atau layanan lainnya sesuai kebutuhan.
  13. Segala hal yang dilihat, didengar, atau ditemukan oleh mentor dan panitia selama kegiatan dengan peserta bersifat rahasia atau konfidensial. Panitia dan mentor wajib mendapatkan persetujuan dari peserta yang bersangkutan sebelum mempublikasikan sesuatu yang dapat bersifat sensitif atau personal.
  14. Selama kegiatan berlangsung, akan ada proses dokumentasi acara (pengambilan foto, video, wawancara dan sebagainya) yang melibatkan panitia, mentor, peserta diskusi, dan peserta lokakarya. Bagi hasil dokumentasi yang akan dipublikasikan (misal: foto dan video), panitia akan meminta persetujuan dari peserta lokakarya untuk ditampilkan. Bagi hasil dokumentasi yang bersifat internal seperti pencatatan dan pelaporan kepada donor, panitia akan mengabari tetapi tidak memerlukan persetujuan dari peserta, dengan memastikan bahwa dokumentasi tersebut tidak akan disebar secara umum.
  15. Peserta memiliki kebebasan kreatif untuk mengangkat materi yang diinginkan. Apabila terdapat materi yang mengandung hal-hal yang bersifat sensitif, personal, atau berpotensi mengundang risiko hukum atau kekerasan, mentor menjelaskan potensi manfaat dan risiko dari penggunaan materi tersebut dalam karya yang dipublikasikan.
  16. Panitia, mentor, peserta lokakarya dan peserta diskusi menghormati hak satu sama lain untuk menyampaikan pendapat atau keluhan mereka secara bebas. Panitia, mentor, peserta lokakarya dan peserta diskusi memahami bahwa tiap orang memiliki kekurangan. Apabila ditemukan hal-hal yang kurang enak atau perspektif yang kurang sempurna, kami menghargai apabila hal itu disampaikan dan dibicarakan secara langsung dengan yang bersangkutan atau dengan panitia, daripada dibicarakan di belakang atau secara umum. Panitia, mentor, peserta lokakarya dan peserta diskusi akan mendengarkan masukan dan kritik dengan pikiran terbuka dan semangat untuk belajar dan menjadi lebih baik. 
  17. Apabila suatu waktu peserta memutuskan untuk menarik persetujuan yang sebelumnya diberikan terkait karya mereka, mentor perlu memahami dan bekerja bersama mereka dan panitia untuk mencapai kesepakatan mengenai karya.
  18. Apabila panitia dan mentor merasa peserta berada dalam bahaya, panitia dan mentor wajib meminta persetujuan dari peserta untuk menghubungi lembaga bantuan, psikolog, atau layanan lainnya sesuai kebutuhan.
  19. Pada akhir program, mentor diharapkan memberi informasi atau rujukan untuk para peserta yang ingin terus berkarya atau belajar lebih lanjut.
  20. Pada akhir program, panitia mengadakan sebuah sesi akhir pasca-acara dengan kegiatan wellness dan wellbeing bersama dalam suasana santai.

Manajemen Risiko untuk Panitia

  • Kami memilih untuk bekerja dengan orang dewasa (18 tahun ke atas), bukan remaja atau anak yang di bawah umur.
  • Kami mengomunikasikan dengan jelas bahwa para peserta dapat berpartisipasi menggunakan nama pribadi atau nama pena, tergantung tingkat kenyamanan mereka.
  • Kami menggunakan strategi kreatif yang sesuai dengan kenyamanan peserta (misal, menggunakan voice over dalam pembuatan video daripada memunculkan wajah peserta yang tidak ingin wajahnya ditampilkan).
  • Bersama mitra-mitra, kami merancang pedoman etika dan menyampaikannya kepada semua panitia, mentor, peserta lokakarya, dan peserta diskusi.
  • Panitia, mentor, dan peserta lokakarya menganut prinsip persetujuan (consent) dalam setiap langkah proses berkarya.
  • Kami melatih dan memberikan pertolongan pertama psikologis di setiap acara kami.
  • Kami merancang strategi komunikasi publik yang menekankan empati antara para transpuan dan masyarakat secara luas.
  • Kami menyiapkan kontak dengan lembaga bantuan hukum dan psikologis di Jakarta apabila dibutuhkan.
  • Koordinator media dan media sosial kami siap menyuarakan secara langsung jika terjadi perisakan/perundungan (bullying) atau tindak kekerasan terhadap panitia, mentor atau kolaborator selama acara berlangsung.